NAGOYA, JEPANG, kitawisata.id — Penyelenggaraan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang turut menghadirkan layanan ramah Muslim melalui penyediaan fasilitas ibadah dan pilihan makanan yang memperhatikan kebutuhan peserta serta awak media dari berbagai negara.
Di tengah berlangsungnya pesta olahraga terbesar di Asia tersebut, perhatian terhadap kebutuhan keagamaan menjadi bagian dari pelayanan yang disediakan panitia penyelenggara bagi pengunjung dan peserta dengan latar belakang budaya yang beragam.
Jumat, 25 September 2026, mengungkap adanya ruang salat dan makanan berlabel ramah Muslim di sejumlah fasilitas pendukung Asian Games. Kehadiran layanan tersebut memperlihatkan bagaimana penyelenggaraan ajang olahraga internasional juga dapat mengakomodasi kebutuhan wisatawan dan peserta Muslim.
Ruang Ibadah Tersedia di Pusat Media dan Sejumlah Arena
Salah satu bentuk pelayanan ramah Muslim dalam Asian Games Aichi-Nagoya 2026 terlihat di Main Media Center (MMC), yang menjadi pusat kegiatan para jurnalis selama pelaksanaan pertandingan.
Fasilitas yang disediakan tidak sepenuhnya seragam. Beberapa lokasi dilengkapi sajadah, penunjuk arah kiblat, dan tempat berwudu, sementara lokasi lainnya menyediakan ruangan berkarpet yang dapat digunakan untuk beribadah.
Sebagian arena menggunakan istilah prayer room atau ruang doa, sedangkan arena lainnya menyediakan multi-faith room, yakni ruang ibadah yang dapat digunakan oleh pemeluk berbagai agama.
Keberadaan fasilitas tersebut membantu para atlet, ofisial, dan awak media menjalankan kegiatan keagamaan di tengah padatnya jadwal pertandingan.
Pilihan Makanan Halal dan Vegan bagi Atlet
Selain fasilitas ibadah, penyelenggara Asian Games Aichi-Nagoya 2026 juga memperhatikan kebutuhan konsumsi para peserta.
Panitia penyelenggara menyiapkan layanan makanan di Garden Pier, kawasan Pelabuhan Nagoya, dengan pilihan hidangan internasional, makanan halal, serta menu vegan.
Berdasarkan informasi penyelenggara yang disampaikan melalui Dewan Olimpiade Asia (OCA) dan ANTARA pada 30 Agustus 2026, layanan tersebut turut memperkenalkan kuliner khas Nagoya dan Prefektur Aichi kepada para atlet dari berbagai negara.
Kuliner khas setempat dikenal dengan sebutan Nagoya-meshi, yang mencakup beragam hidangan dari Nagoya dan wilayah Aichi.
Penyediaan pilihan makanan tersebut menjadi bagian dari upaya penyelenggara untuk mengakomodasi kebutuhan konsumsi peserta dengan latar belakang budaya dan pola makan yang berbeda.
Sementara itu, di sejumlah fasilitas media, penyelenggara juga memberikan informasi mengenai kandungan makanan serta mencantumkan label ramah Muslim pada pilihan kudapan yang disediakan.
Meski demikian, label ramah Muslim tidak selalu memiliki pengertian yang sama dengan sertifikasi halal. Bagi pengunjung yang memerlukan jaminan kehalalan, informasi mengenai bahan, proses pengolahan, dan sertifikasi makanan tetap perlu diperhatikan.
Asian Games Jadi Momentum Pelayanan Wisata Ramah Muslim
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober 2026, dengan pertandingan yang diselenggarakan di berbagai arena di Jepang.
Ajang olahraga edisi ke-20 ini mempertemukan atlet dari 45 negara dan wilayah Asia dalam berbagai cabang olahraga. Jepang kembali menjadi tuan rumah Asian Games setelah sebelumnya menyelenggarakan ajang tersebut di Hiroshima pada 1994.
Selain menjadi tempat berlangsungnya kompetisi olahraga, penyelenggaraan Asian Games juga menghadirkan pertemuan masyarakat dari berbagai negara dengan kebutuhan budaya dan keagamaan yang beragam.
Dalam konteks pariwisata, penyediaan makanan halal dan fasilitas ibadah merupakan bagian dari konsep wisata ramah Muslim atau Muslim-friendly tourism.
Konsep tersebut menekankan pelayanan yang memperhatikan kebutuhan wisatawan Muslim, antara lain melalui ketersediaan informasi makanan halal, tempat ibadah, dan kemudahan mengakses layanan yang sesuai dengan kebutuhan keagamaan.
Namun, keberadaan fasilitas tersebut di sejumlah lokasi Asian Games tidak berarti seluruh tempat wisata, restoran, atau fasilitas umum di Nagoya telah menyediakan layanan serupa.
Wisatawan Muslim yang berencana mengunjungi Jepang tetap perlu memeriksa ketersediaan fasilitas ibadah dan pilihan makanan halal di setiap lokasi yang akan dikunjungi.
Wisata Ramah Muslim Juga Menjadi Perhatian Indonesia
Pengembangan layanan ramah Muslim tidak hanya menjadi perhatian Jepang. Pemerintah Indonesia juga berupaya memperkuat ketersediaan produk halal di berbagai destinasi wisata.
Kementerian Pariwisata, melalui Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Vinsensius Jemadu, pada Juni 2026 menyampaikan upaya peningkatan ketersediaan produk halal, termasuk melalui penguatan kesiapan pelaku usaha di desa wisata.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan wisata ramah Muslim di Indonesia, sekaligus mendukung kualitas pelayanan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pengalaman penyelenggaraan Asian Games di Nagoya memperlihatkan bahwa layanan ramah Muslim dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan internasional yang diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang.
Melalui penyediaan fasilitas ibadah dan pilihan makanan yang memperhatikan kebutuhan keagamaan, penyelenggara dapat memberikan akses pelayanan yang lebih inklusif kepada para peserta dan pengunjung.