Jakarta, kitawisata.id — Grup usaha milik Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama dikabarkan siap masuk ke jajaran pemegang saham besar PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement (CSPA) untuk pembelian 10.000.000.500 saham BYAN, atau setara sekitar 30 persen dari total saham beredar.
Informasi tersebut menjadi sorotan pasar karena BYAN merupakan salah satu emiten batu bara besar di Indonesia. Masuknya grup Haji Isam dinilai dapat membawa perubahan pada komposisi kepemilikan dan arah strategis perseroan, meski proses transaksi saat ini masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan.
Berdasarkan data yang telah diverifikasi, saham BYAN saat ini tidak berada dalam status suspensi dan masih aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Harga penutupan terakhir tercatat berada di level Rp11.925 per saham, sehingga menjadi salah satu acuan investor dalam menilai besaran transaksi tersebut.
Dengan menggunakan harga penutupan tersebut, nilai indikatif untuk 30 persen saham BYAN yang menjadi objek transaksi berada di kisaran Rp119,25 triliun. Meski demikian, nilai final transaksi tetap bergantung pada ketentuan perjanjian dan mekanisme penyelesaian yang berlaku di antara para pihak.
Transaksi ini juga menarik perhatian karena sebelumnya sempat beredar rumor mengenai akuisisi dalam porsi yang lebih besar. Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa kesepakatan yang mengemuka saat ini mengarah pada pembelian sekitar 30 persen saham, bukan pengambilalihan penuh atas perusahaan.
Manajemen menegaskan bahwa transaksi masih berada dalam tahap perjanjian bersyarat. Artinya, proses akuisisi belum sepenuhnya rampung dan masih menunggu terpenuhinya berbagai syarat sebelum dapat diselesaikan secara resmi.
Di sisi lain, pasar juga mencermati posisi pemegang saham lama setelah transaksi ini berjalan. Jika proses penyelesaian nantinya tuntas, Low Tuck Kwong tetap diproyeksikan menjadi salah satu pemegang saham utama di BYAN.
Perkembangan ini dinilai menjadi salah satu sentimen penting di pasar modal, terutama bagi investor yang memantau sektor batu bara dan emiten-emiten berkapitalisasi besar. Selain nilai transaksinya yang sangat besar, perubahan struktur kepemilikan pada BYAN juga berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap prospek bisnis perseroan ke depan.