JAKARTA, kitawisata.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis, 17 September 2026, di zona hijau setelah pasar merespons keputusan terbaru bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

IHSG ditutup menguat 25,58 poin atau 0,40 persen ke level 6.462,43. Sebanyak 384 saham berakhir menguat, 244 saham melemah, dan 164 saham tidak berubah.

Dalam perdagangan hari ini, IHSG sempat mencapai level tertinggi sekitar 6.500,40, setelah dibuka di sekitar 6.455. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp13,93 triliun.

Penguatan IHSG berlangsung setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya.

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin

Federal Open Market Committee (FOMC) dalam pertemuan 15–16 September 2026 memutuskan menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

Keputusan tersebut disetujui dengan suara 12–0.

Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih tumbuh pada laju yang solid, sementara inflasi tetap berada pada tingkat yang tinggi. Bank sentral AS menyatakan langkah kebijakan tersebut ditujukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju sasaran 2 persen.

Kenaikan tersebut merupakan kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023.

Apakah The Fed Masih Akan Naikkan Bunga?

Proyeksi ekonomi terbaru FOMC menunjukkan median proyeksi tingkat federal funds rate pada akhir 2026 sebesar 4,1 persen, lebih tinggi dibanding kisaran target saat ini sebesar 3,75–4,00 persen.

Proyeksi tersebut dapat menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan melihat perlunya tingkat bunga yang lebih tinggi dibanding posisi saat ini.

Namun, proyeksi FOMC bukan keputusan kebijakan yang sudah ditetapkan. Arah suku bunga berikutnya tetap dapat berubah mengikuti perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja dan kondisi keuangan.

Karena itu, terlalu dini menyatakan The Fed pasti akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Rupiah Melemah Berdasarkan JISDOR

Di pasar valuta asing, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis, 17 September 2026, berada di Rp17.753 per dolar AS.

Angka tersebut melemah dibandingkan JISDOR Rabu, 16 September 2026, yang berada di Rp17.712 per dolar AS. Pada 14 September, JISDOR masih berada di Rp17.635 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar setelah The Fed menaikkan suku bunga, seiring perubahan daya tarik aset berbasis dolar AS dan imbal hasil surat utang Amerika Serikat.

Mayoritas Sektor Saham Menguat

Penguatan IHSG pada perdagangan Kamis juga terjadi cukup luas.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, 10 dari 11 sektor berakhir menguat. Sektor barang konsumen non-primer mencatat kenaikan terbesar sebesar 1,63 persen, disusul energi 1,17 persen dan barang konsumen primer 0,88 persen.

Sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang berakhir melemah, dengan penurunan 0,55 persen.

Ke Mana Arah IHSG Berikutnya?

Pergerakan IHSG berikutnya belum dapat dipastikan hanya berdasarkan penguatan satu hari perdagangan.

Pasar masih akan mencermati sejumlah faktor, antara lain kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS dan rupiah, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, harga komoditas, arus dana asing serta kebijakan Bank Indonesia.

Sebelum perdagangan Kamis berlangsung, riset teknikal Kiwoom Sekuritas Indonesia mencatat area 6.430–6.377 sebagai zona support yang perlu diperhatikan, sedangkan area 6.451–6.516 menjadi salah satu rentang resistance terdekat.

Analisis tersebut dibuat berdasarkan posisi IHSG pada penutupan Rabu, 16 September 2026, sehingga level tersebut perlu dibaca sebagai analisis teknikal, bukan kepastian pergerakan pasar.

Pada perdagangan Kamis, IHSG sempat bergerak hingga sekitar 6.500 sebelum akhirnya ditutup pada 6.462,43.

Dengan kondisi tersebut, perhatian pasar berikutnya antara lain tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan penguatan serta bagaimana indeks bergerak terhadap area teknikal yang diamati pelaku pasar.

Pasar Global Juga Mencerna Kebijakan The Fed

Respons pasar global terhadap keputusan The Fed tidak bergerak satu arah.

Pada perdagangan Kamis, pasar saham global mengalami penguatan di tengah penurunan harga minyak, sementara dolar AS sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam sekitar tujuh minggu setelah keputusan The Fed.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan pasar bukan hanya dipengaruhi suku bunga The Fed, tetapi juga harga energi, geopolitik, imbal hasil obligasi serta ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral lainnya.

Bagi pasar Indonesia, kombinasi antara sentimen global dan faktor domestik akan tetap menjadi perhatian dalam perdagangan selanjutnya.

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan jurnalistik. Informasi di dalamnya bukan rekomendasi, ajakan, atau saran untuk membeli maupun menjual saham atau instrumen investasi tertentu.